PANDANGAN – Aksi mahasiswa Sula yang menolak 10 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Pulau Mangoli, yang bahkan berujung pada dugaan kekerasan saat Kongres, bukanlah insiden politik praktis, melainkan sebuah manifestasi etika tanggung jawab yang mendalam.
Dari perspektif etika deontologis (berakar dari pemikiran Immanuel Kant), tindakan ini didasari oleh keyakinan akan adanya kewajiban moral absolut, bagi para mahasiswa, menjaga kelestarian lingkungan dan hak hidup masyarakat lokal bukanlah pilihan.
Melainkan keharusan yang tidak bisa dinegosiasikan dengan kekuatan ekonomi sesaat. “Dimana ada kebijakan yang merugikan rakyat, disitu ada perlawanan”, adalah prinsip universal yang mereka pegang teguh.
Bagi sebagian kecil mahasiswa yang berani dan bisa memegang teguh pernsip universal kemahasiswaan, maka dalam prakteknya, mereka tentu menghadapi banyak tantangan, rintangan, dan cobaan.
Dari situ, saya cukup memahami, apa yang dirasakan oleh kawan-kawan mahasiswa penolak IUP di Kongres HPMS kemarin.
Bahwa sedih, bahwa sakit, ya pasti, jika perjuangan untuk negri justru diasingkan, apalagi itu terjadi dirumah sendiri. Seperti luka yang disayat belati tajam, tentu perih rasanya.
Namun, itulah resiko yang harus diterima oleh mereka yang kokoh dalam memegang nilai serta prinsip sebagai manusia yang mereka.
Aksi kalian hari itu, mestinya menjadi alaram bagi kita semua, bahwa pulau Mangoli tidak sedang baik-baik saja.
Sebab dari perspektif etika lingkungan, pembukan lahan secara besar-besaran sering kita mengabaikan prinsip fundamental bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasanya.
Jika perusahaan sudah jalan kelak nanti, maka amukan eksavator dan buldoser tak bisa dibendung lagi. Maka ancaman bencana itu nyata, hilangnya lahan perkebunan warga itu pasti, dan kerusakan lingkungan yang mengintai Mangoli tentu terjadi.
“Mangoli bukan tanah kosong”, benar apa yang disuarakan, dan harusnya mendapat simpati, sebab mereka telah menyuarakan hak-hak alam yang tidak bisa berbicara.
Untuk itu, salut bagi para mahasiswa pejuang IUP. Kalian mewakili suara imperatif kategoris ala Immanuel Kant dalam konteks lingkungan.
Perlakuan alam sedemikian rupa sehingga ia juga dapat berfungsi sebagai dasar bagi generasi mendatang, bukan hanya sebagai sarana untuk memenuhi hasrat ekonomi generasi saat ini.
Perjuangan yang patut diapresiasi. Aksi kalian adalah pengingat bahwa pembangunan sejati adalah yang menjamin kelangsungan hidup, bukan yang menjual masa depan demi keuntungan instan.
Pada titik itulah, kira-kira kawan-kawan mahasiswa membentangkan panflet penolakan 10 IUP Mangoli, agar bisa didengar dan selanjutnya ditetapkan sebagai salah satu poin dalam rekomendasi Kongres.
Namun paskah Kongras HPMS__ sampai saat ini belum terlihat poin-poin rekomendasi dari hasil Kongres yang dipublikasikan secara jelas dan terbuka, termasuk penolakan 10 IUP Mangoli.
Saya lalu berpikir, mungkin saja masi ada hal-hal lain yang lebih penting dan mendesak yang harus diselesaikan terlebih dahulu, barulah kemudian poin-poin rekomendasi tersebut dipublikasikan ke publik.
Tetapi, tolong koreksi kalau saya salah, namun jika saya benar, tentu sangat disayangkan, sebab harapan dari perjuangan mahasiswa hari itu adalah memasukkan penolakan 10 IUP Mangoli pada rekomendasi Kongres.
Tugas mahasiswa adalah tetap tegak lurus dalam nilai-nilai perjuangan, berdikari tanpa harus mengeluh.
M Natsir, dalam bukunya yang berjudul Kapita Selekta, mengatakan bagawa, maju mundurnya satu negara dan satu daerah, bukan dilihat dari warna kulit, garis keturunan, atau senioritas yang banyak, tetapi dilihat dari sejauh mana generasi mudanya memiliki kapasitas kapabilitas intelektual, serta integritas spiritual dan pembangunan moral.
Oleh sebab itu, aksi mahasiswa di Asrama Haji Ternate waktu Kongres HPMS adalah semangat juang muda yang harus dipupuk. Hari itu akan diingat sebagai hari dimana harkat dan martabat mahasiswa dalam menjaga peradaban jauh lebih penting ketimbang kepentingan politik.
Saya berharap, bara yang bergema dalam ruangan itu bisa menjadi sugesti yang menghidupkan kembali semangat mahasiswa Sula di Universitas manapun di Republik ini, untuk sama-sama menjaga Hai Poa Bai (Tanah Tercinta), terutama Pulau Mangoli yang telah di kapling dengan IUP. (**)
Oleh: Arman Buton























