Tutup Iklan ini
Gambar
Opini

Sula Bahagia: Komitmen Nyata Atau Hanya Jargon Semu?

133
×

Sula Bahagia: Komitmen Nyata Atau Hanya Jargon Semu?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PANDANGAN – Secara Filosofis, Sula Bahagia dapat diterima sebagai sebuah visi yang sarat makna. Sebab, kata bahagia itu sendiri, merujuk pada sebuah dinamika, dan atau kondisi realitas yang terjadi secara riil.

Kemudian realitas tersebutlah yang menciptakan satu efek emosional yang disebut bahagia.

Example 300x600

Bahagia adalah keadaan pikiran, emosi dan perasaan yang penuh kesenangan, yang diakibatkan oleh satu realitas tertentu, (Diener).

Jadi, Visi Sula Bahagia secara konseptual merupakan manifestasi dari sebuah ide berlian, tentang tujuan dan cita-cita mulia, bahagia ekonominya, bahagia pendidikannya, bahagia kesehatannya, bahagia pembangunannya, dan bahagia agamanya, merupakan satu terobosan sekaligus prestasi luar biasa, jika visi bahagia tersebut, benar-benar dapat terwujud.

Secara ilmiah pula, satu konstruksi teori atau konsep, baik itu pandagan dan visi tertentu, akan diakui keakuratannya bila keberadaannya selaras dengan realitas.

Menurut Berger dan Luckmann, dalam teori konstruksi sosial, sebuah teori dapat dianggap relevan dan benar apabila ia dapat menjelaskan dan diuji melalui realitas yang ada, terutama realitas sosial.

Pandangan ini menekankan satu teori yang digagas, baik sebagai konsep visi tertentu, harusnya tidak hanya sekedar memaparkan fakta dalam dokumen belaka, tetapi juga harus mampu menjelaskan bagaimana realitas itu diciptakan dan dipertahankan.

Sekarang, kita lihat Sula Bahagia sebagai satu Visi, apakah peng__aktualisasianya, sudah selaras sejalan dengan realitas; ekonomi, pembagunan, kesehatan, pendidikan, dan agamanya?

Apakah, masyarakat telah merasakan dampak langsung dari Sula Bahagia? Bagaimana ekonominya, pembangunannya, pendidikannya, kesehatannya, dan agamanya?

Jika sudah terealisasi dan terasa langsung oleh masyarakat, itu artinya, Visi Sula Bahagia, tidak hanya sekedar tumpukan kertas, konsep dan dokumen yang menjadi pajangan dimeja Bupati, melainkan komitmen nyata yang dijalankan.

Tapi jika tidak atau belum sama sekali, maka iya tak ubahnya, hanya sekedar jargon kosong. Seperti janji kampanye yang penuh misteri tanpa wujud nyata.

Visi yang visioner, harus dirancang diatas tahapan observasi, curah pendapat, dan penelitian serta selaras dengan Rencana Pembagunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) untuk menjawab persoalan aktual dan mengintegrasikannya dengan dokumen perencanaan pembangunan yang berlaku.

Dengan demikian maka, visi tersebut berpotensi dapat diwujudkan dan terasa langsung oleh masyarakat secara langsung.
Sejatinya, Visi yang digagas seorang pemimpin, harus menjadi prioritas utama, sebagai komitmen atas apa yang dicita-citakan sejak awal.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Warren Bennis, visi pemimpin harus realistis, dapat dipercaya dan mampu menerjemahkan visi menjadi kenyataan. Bukan hanya mimpi besar yang tidak terjangkau.

Pemimpin visioner harus mampu menyeimbangkan antara ide aspiratif dan kondisi riil dilapangan, serta melibatkan anggota tim dalam prosesnya agar visi tersebut dapat diwujudkan.

Akhirnya semua harapan Masi bertumpuk pada Visi Sula Bahagia. Semoga saja, ekonominya bahagia. Para petani senag, karena harga hasil bumi naik. Ibu hamil, dan anak kekurangan gizi senang, karena mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.

Para generasi muda gembira, mendapatkan beasiswa studi lanjutan. Dan, semua merasa bahagia dengan pembangunan infrastruktur serta merasa damai tenteram yang agamais.

Jadi sekali lagi, semoga Visi Sula Bahagia, akan menjadi komitmen nyata, bukan jargon semu yang dibangun diatas bingkai fiksi belaka. Semoga. (*)

Penulis: Arman Buton

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *