Tutup Iklan ini
Gambar
Opini

Ngopi Bareng: Ngobrol Lapangan Kerja di Kabupaten Kepulauan Sula

495
×

Ngopi Bareng: Ngobrol Lapangan Kerja di Kabupaten Kepulauan Sula

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

CERITA – Pagi tadi, saya berkesempatan berdiskusi dengan sejumlah elemen masyarakat, jurnalis, dan politisi di warkop Djong Soela (JS) coffe desa fatcey Kabupaten Kepulauan Sula.

Kami berbincang santai tetapi penuh makna, membahas salah satu isu krusial yang dihadapi masyarakat kabupaten kepulauan Sula yaitu ” lapangan Kerja “.

Example 300x600

Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam dan potensi maritim, Kepulauan Sula seharusnya mampu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakatnya.

Namun, kenyataannya masih banyak pemuda yang menganggur, kesulitan mencari pekerjaan yang layak, atau bahkan terpaksa merantau ke luar daerah demi mencari penghidupan.

Dalam diskusi ini, beberapa poin penting mencuat. Salah satunya adalah kurangnya kebijakan yang berpihak pada pengembangan tenaga kerja lokal. Banyak pekerjaan strategis di sektor-sektor potensial, seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata, masih belum dikelola secara optimal untuk menyerap tenaga kerja lokal. Selain itu, minimnya program pelatihan dan keterampilan membuat banyak pemuda Sula kesulitan bersaing di dunia kerja.

Kami juga membahas peran pemerintah daerah dalam menciptakan kebijakan yang lebih berpihak pada penciptaan lapangan kerja. Regulasi yang mendukung investasi berbasis ekonomi lokal, pemberdayaan UMKM, hingga optimalisasi sektor perikanan dan pertanian menjadi kunci agar masyarakat bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Lebih dari sekadar diskusi lepas, Ngopi Bareng ( kebetulan ketemu ) ini membuka ruang bagi kami untuk berbagi gagasan dan mencari solusi nyata. Kami sepakat bahwa perubahan harus dimulai dari langkah-langkah kecil, baik dari individu, komunitas, maupun dorongan kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat.

Salah satu jurnalis yang hadir dalam diskusi lepas ini juga menyoroti peran media dalam mendorong kebijakan yang berpihak pada penciptaan lapangan kerja.

Dengan pemberitaan yang kritis dan konstruktif, media bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah dalam mengawal kebijakan ekonomi daerah.

Sementara itu, elemen masyarakat yang turut serta dalam diskusi ini menegaskan pentingnya peran pemuda dan masyarakat dalam membangun Sula. Mereka menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan inisiatif dari anak muda untuk berinovasi dan menciptakan peluang usaha sendiri. Wirausaha berbasis potensi lokal, seperti pengolahan hasil laut dan ekowisata, menjadi salah satu solusi yang layak dikembangkan.

Dari perbincangan ini, saya semakin yakin bahwa Kepulauan Sula memiliki potensi besar untuk berkembang. Namun, hal ini hanya bisa terwujud jika ada sinergi antara pemerintah, dunia usaha, media, dan generasi muda dalam menciptakan ekosistem kerja yang produktif dan berkelanjutan.

Diskusi ini bukan akhir, tetapi awal dari langkah bersama untuk mendorong kebijakan yang lebih pro-rakyat, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja.

Saya berharap obrolan ini bisa menjadi pemantik bagi banyak pihak untuk ikut serta dalam mencari solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sula. Karena bagi kami, Sula bukan hanya tempat lahir, tetapi juga tanah yang harus kita bangun bersama. (/)

Oleh: Mohtar Umasugi

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *