PANDANGAN – Idul Fitri selalu kita rayakan dengan satu kalimat sakral “mohon maaf lahir dan batin”. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, kalimat itu perlahan kehilangan kedalaman maknanya. Ia kini lebih sering hadir sebagai notifikasi daripada perjumpaan, lebih banyak dibaca daripada dirasakan.
Pertanyaannya menjadi penting, apakah kita benar-benar sedang saling memaafkan, atau sekadar menggugurkan kewajiban sosial?
Hari ini, WhatsApp telah menjadi “jalan pintas” dalam tradisi saling memaafkan. Dalam satu klik, pesan yang sama bisa dikirim ke ratusan orang.
Tidak ada lagi perjalanan panjang, tidak ada lagi ketukan pintu, tidak ada lagi duduk bersama yang penuh kehangatan. Semua dipadatkan dalam teks singkat yang sering kali generik, bahkan hasil salin-tempel.
Fenomena ini perlu dikritisi secara jujur bahwa kita sedang menyaksikan reduksi makna silaturahmi. Padahal, dalam ajaran Islam, silaturahmi bukan sekadar komunikasi, tetapi perjumpaan.
Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan bahkan biaya. Justru di situlah nilai spiritualnya bahwa ada kesungguhan untuk hadir, bukan sekadar mengirim.
Lebih jauh, jika dilihat dari perspektif sosial, pergeseran ini berdampak serius. Tradisi saling mengunjungi yang dulu menjadi ruang pertemuan sosial kini mulai memudar. Rumah-rumah tidak lagi ramai, interaksi antarwarga menjadi kering, dan rasa kebersamaan perlahan terkikis.
Di daerah seperti Kabupaten Kepulauan Sula, Lebaran sejatinya bukan hanya momentum religius, tetapi juga momentum sosial-ekonomi, perputaran uang, aktivitas pasar, hingga geliat konsumsi masyarakat.
Ketika silaturahmi direduksi menjadi pesan digital, maka yang hilang bukan hanya kehangatan relasi, tetapi juga denyut ekonomi rakyat kecil.
Ironisnya, kemudahan teknologi sering kali dijadikan pembenaran atas kemalasan sosial. Kita merasa sudah “cukup” dengan mengirim pesan, padahal hakikatnya kita sedang menghindari interaksi yang lebih bermakna.
Bahkan lebih jauh, budaya broadcast message telah melahirkan satu bentuk baru dari kepura-puraan sosial, seolah-olah peduli, tetapi tanpa usaha nyata untuk hadir. Di sinilah letak kritik utamanya
kita sedang mempraktikkan spiritualitas yang instan.
Padahal, memaafkan bukanlah tindakan administratif yang bisa diselesaikan dengan satu pesan. Ia adalah proses batin yang sering kali membutuhkan keberanian untuk bertatap muka, mengakui kesalahan, dan meruntuhkan ego.
Namun demikian, bukan berarti WhatsApp sepenuhnya salah. Ia tetap memiliki tempat, terutama bagi mereka yang terhalang jarak, kondisi ekonomi, atau situasi tertentu. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika ia dijadikan pilihan utama, bukan pilihan terakhir.
Di titik ini, kita perlu jujur pada diri sendiri:
apakah kita memilih WhatsApp karena keterbatasan, atau karena kenyamanan?
Jika jawabannya adalah kenyamanan, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan satu nilai penting dalam Idul Fitri yaitu kesungguhan dalam memperbaiki hubungan.
Maka, jika harus ditarik garis tegas.
memaafkan secara langsung dengan mendatangi rumah tetap lebih afdhol, bukan hanya secara normatif keagamaan, tetapi juga secara sosial dan moral.
Ia menghadirkan keutuhan makna kehadiran fisik, ketulusan emosi, dan kontribusi sosial sekaligus. Sementara itu, memaafkan lewat WhatsApp hanya layak menjadi alternatif dalam kondisi darurat, bukan kebiasaan yang dinormalisasi.
Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk melawan ego, bukan memanjakannya. Tetapi hari ini, kita justru menyaksikan bagaimana teknologi diam-diam memperkuat ego itu membuat kita merasa cukup tanpa benar-benar berbuat.
Barangkali yang perlu kita renungkan adalah jangan-jangan kita bukan sedang memaafkan, tetapi hanya sedang menghindari pertemuan.
Dan jika itu yang terjadi, maka Idul Fitri telah kehilangan ruhnya, tinggal tradisi tanpa makna, ucapan tanpa kehadiran, dan maaf tanpa keikhlasan. (*)
Oleh: Mohtar Umasugi
























